Gudangberita.co.id, Yogyakarta — Sinergi strategis antara pelaku industri dan insan pers menjadi krusial dalam memperkuat tata kelola industri kelapa sawit nasional yang berkelanjutan, ramah lingkungan, serta berdaya saing di pasar global. Komitmen ini mengemuka dalam forum Workshop Jurnalistik GAPKI dan PWI yang digelar di Yogyakarta.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyampaikan bahwa pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi acara bertujuan untuk memperluas edukasi publik mengenai besarnya peran komoditas sawit dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dukungannya terhadap industri batik lokal.
Di sisi lain, Eddy menyoroti tantangan regulasi yang membebani pelaku usaha, khususnya terkait aturan Strict Liability atau tanggung jawab mutlak dalam Pasal 88 UU No. 32 Tahun 2009. Regulasi ini kerap membuat perusahaan otomatis dianggap lalai saat terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), meskipun titik api terbukti berasal dari luar area konsesi.
“Kami mengusulkan adanya adendum atau klausul pengecualian dalam aturan, terutama saat kondisi cuaca ekstrem. Pada prinsipnya, tidak ada perusahaan atau masyarakat yang sengaja membakar asetnya sendiri,” ujar Eddy. Ia menambahkan bahwa GAPKI selalu proaktif menerjunkan tim pemadam untuk membantu penanganan api di luar area konsesi, seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Riau.













