Peninjauan berlanjut ke Drainase Jalan Letjend Suprapto (depan RS Graha Hermain, Batuaji) serta kawasan spillway di belakang Rusun Pemko Muka Kuning. Di wilayah Batuaji, Wawako meminta adanya pelebaran saluran air dan jembatan yang disesuaikan secara presisi dengan Ruang Milik Jalan (Row).
Ia menyoroti pentingnya penataan sistem drainase yang holistik dari hulu ke hilir—termasuk pengerukan normalisasi menggunakan alat berat—agar aliran air tidak tertahan di titik-titik tertentu saat intensitas hujan tinggi. Selain itu, aspek kenyamanan publik turut menjadi penekanan.
“Pekerjaan harus berjalan, tetapi lalu lintas dan aktivitas warga jangan sampai terganggu,” ujarnya.
Tidak hanya fokus pada potensi banjir, Li Claudia turut melayangkan kritik terhadap lambatnya penanganan keselamatan jalan raya. Ia mendesak percepatan perencanaan Penerangan Jalan Umum (PJU) di sepanjang Jalan Laksamana Bintan, mulai dari Simpang Pollux hingga Simpang Telkom, Kecamatan Batam Kota.
Akses vital tersebut dinilai rawan kecelakaan dan tindak kejahatan pada malam hari akibat minimnya pencahayaan yang memadai.
Li Claudia menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur di Batam tidak boleh sekadar berorientasi pada penyelesaian fisik atau penyerapan anggaran semata.













