Senada dengan hal tersebut, Wali Kota Batam, Amsakar Ahmad, mengapresiasi kontribusi positif warga Kampar terhadap pembangunan Kota Batam. Ia menilai keberagaman budaya di Batam adalah kekuatan besar untuk menjaga iklim yang kondusif.
Secara turun-temurun, Balimau Kasai merupakan perpaduan antara simbol pembersihan fisik (air limau) dan Kasai (wangi-wangian) sebagai simbol keharuman dan kesiapan hati yang bersih.
Prosesi inti berlangsung khidmat saat air limau disiramkan secara simbolis kepada warga, diiringi doa agar diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Ketua baru dan terpilih Keluarga Besar Kabupaten Kampar (KBKK) Batam, Darwizar, S.E., menyatakan rasa bangganya atas terselenggaranya acara ini dengan kehadiran tokoh-tokoh penting. Ia bertekad untuk membuat gelaran tahun depan jauh lebih meriah.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Pemuda Kampar Batam (PPK-B), Wirlisman, S.H., Sp.N., menambahkan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah menjaga kualitas spiritual menjelang Ramadan. “Di tanah rantau, nilai-nilai adat harus ditumbuhkan agar menjadi jembatan yang menyatukan masyarakat dalam bingkai persaudaraan dan keimanan,” tuturnya.
Acara diakhiri dengan makan bersama dan silaturahmi hangat di tepi pantai, mempertegas bahwa bagi warga Kampar di Batam, tradisi adalah rumah yang selalu mereka bawa ke mana pun mereka melangkah.









