Di siang hari sangat panas. Sedangkan di malam hari sangat dingin. Maka, untuk berdamai dengan alam, penduduk Najd membangun hunian yang cocok dengan kondisi tersebut.
Lahirlah, bangunan setinggi dua lantai dan berbentuk geometris, seperti kubus atau persegi panjang. Bentuk tersebut bertujuan agar seisi rumah memiliki sirkulasi udara yang baik. Agar lebih optimal, biasanya arsitektur Najd berbahan dasar batu bata atau lumpur yang dibentuk balok dan dikeringkan.
Pemilihan dua bahan itu disebabkan karena mampu menahan suhu yang panas sehingga tidak dapat masuk ke dalam ruangan. Meski demikian, pada malam haru bangunan tersebut dapat menyerap dingin sehingga suhu di dalam ruangan akan lebih sejuk. Penghuninya pun akan lebih merasa nyaman.
Karena arsitektur Najd yang terbaik untuk berdamai dengan alam, maka bangunan dengan bentuk serupa tak lekang oleh waktu, alias tetap dipakai sepanjang zaman mengingat kondisi iklim suatu wilayah tak bisa diubah. Hingga kini wujud arsitektur tersebut masih dipakai oleh penduduk lokal.
Meski teknologi semakin berkembang yang membuat kendala iklim tak lagi jadi soal, banyak kontraktor di Arab yang mempertahankan Najd dalam bangunan. Tujuannya untuk menampilkan identitas khas Arab Saudi.













