PerspektifZona Headline

Krisis Air Batam: Yang Mengalir Justru Amarah

176
×

Krisis Air Batam: Yang Mengalir Justru Amarah

Share this article
Wakil Kepala BP Batam, Li CLaudia Chandra tersulut emosi di depan masyarakat. (Foto: tangkapan layar)
banner 468x60

Alasan prosedural seperti tender yang memakan waktu empat bulan juga patut dikritisi. Hukum dan tata kelola memang harus dipatuhi, tetapi krisis air bersih adalah kondisi darurat sosial. Ketika tagihan air tetap berjalan, sementara air tak mengalir, maka yang terjadi adalah ketidakadilan struktural. Armada air tangki bukan solusi, melainkan penyangga sementara yang tak menyentuh akar persoalan distribusi dan pengelolaan.

BACA JUGA:  Li Claudia Chandra Instruksikan OPD Rutin Turun Lapangan, Berantas Sampah Drainase

Kemarahan warga Batu Ampar seharusnya dibaca sebagai alarm keras. Air bersih bukan proyek, bukan pula komoditas politik lima tahunan. Ia adalah hak dasar yang dijamin konstitusi. Ketika negara gagal memenuhinya, legitimasi moral kekuasaan ikut tergerus. Jika pemerintah daerah dan BP Batam masih menjawab krisis ini dengan janji waktu dan nada tinggi, maka gelombang protes berikutnya bukan lagi ancaman, melainkan keniscayaan.

BACA JUGA:  Bertahun-tahun Cuma Dimodali SK Wali Kota, 37 Kampung Tua di Batam Akhirnya Mau Diperjuangkan Jadi Perda

Redaksi berpandangan, penyelesaian krisis air Batam menuntut lebih dari sekadar dialog. Ia membutuhkan transparansi, target terukur, dan keberanian mengambil keputusan luar biasa untuk situasi yang juga luar biasa. Jika tidak, maka krisis air ini akan terus mengalir bersama krisis kepercayaan publik.