Lokasi ledakan sendiri merupakan lahan milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, yang biasa digunakan untuk peledakan amunisi. Warga sekitar disebut telah diinformasikan sebelumnya mengenai aktivitas tersebut.
Namun, Kristomei juga mengungkapkan kemungkinan adanya ledakan kedua, mengingat kebiasaan warga yang mendatangi lokasi peledakan untuk mencari serpihan logam bekas amunisi. “Biasanya ada warga yang datang mencari tembaga atau besi bekas. Bisa saja ledakan kedua terjadi setelah itu,” katanya.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, membenarkan insiden tersebut dan menyatakan pihak kepolisian masih menunggu laporan lengkap dari Polres Garut. “Kapolres Garut sudah menuju lokasi. Kami juga berkoordinasi dengan Kodim setempat,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi salah satu insiden militer paling mematikan di tahun 2025, khususnya dalam konteks penanganan bahan peledak yang tidak lagi layak pakai.







