Banyak pihak ingin melihat Argentina tumbang lebih awal demi membuktikan bahwa sepak bola di era modern ini masih menyajikan kompetisi yang murni, realistis, dan tidak bisa disetir oleh narasi romantisme satu pemain saja.
Di tengah arus penolakan terhadap Messi, Timnas Spanyol hadir sebagai magnet baru yang memikat hati suporter layar kaca. Di bawah komando generasi emas barunya, Spanyol dinilai memperagakan permainan kolektif yang indah, taktis, dan jauh dari sifat ketergantungan pada satu figur megabintang.
Publik menilai skuad muda Spanyol jauh lebih layak menjadi jawara dunia karena mereka merepresentasikan kerja tim yang organik.
Gaya bermain atraktif yang disuguhkan para talenta muda ini dianggap sebagai antitesis dari skuad Argentina yang dinilai sudah terlalu uzur dan terlalu memuja magis satu orang “alien”.
Keinginan global untuk melihat Spanyol menekuk Messi juga didasari oleh kerinduan akan lahirnya era baru. Fans sepak bola merasa dominasi Messi dan Cristiano Ronaldo sudah harus benar-benar diakhiri demi kebaikan ekosistem sepak bola itu sendiri.
Jika Spanyol berhasil keluar sebagai juara dunia, hal tersebut akan menjadi deklarasi resmi bahwa takhta sepak bola telah sah berpindah ke tangan generasi Lamine Yamal dan kawan-kawan. Sebaliknya, kemenangan Argentina hanya akan dianggap memperpanjang status quo lama yang membosankan.













