Ketua RW The Icon Central, Herry Sembiring, mengungkapkan bahwa besaran IPL yang dibebankan kepada warga berkisar antara Rp765.000 hingga lebih dari Rp1 juta per bulan per unit.
“Angka ini sangat mencekik dan tidak sebanding dengan layanan yang kami terima. Ini juga tidak sesuai dengan konsep hunian yang dijanjikan saat pemasaran,” ujarnya.
Besaran IPL tersebut menjadi salah satu pemicu utama kemarahan warga, yang menilai tidak ada transparansi dalam pengelolaan maupun peningkatan fasilitas lingkungan.
Hunian Privat Berubah Jadi Area Komersial
Selain soal IPL, rencana pembangunan homestay premium di dalam kawasan perumahan memantik kekhawatiran serius. Iqbal, warga lainnya, menilai perubahan fungsi kawasan ini bertentangan dengan konsep awal The Icon Central sebagai hunian privat dan eksklusif.
“Dari awal kami membeli rumah, ini dipromosikan sebagai kawasan hunian privat. Kalau berubah jadi penginapan umum, tentu akan ada kebisingan, keluar-masuk orang asing, dan risiko keamanan,” katanya.
Warga menduga, pengembang berpotensi meraup keuntungan ganda dari pungutan IPL yang tinggi sekaligus aktivitas komersial homestay, sementara dampak sosial dan keamanan justru ditanggung penghuni tetap.








