“Cendol itu nama internasionalnya. Tapi di Jawa disebut dawet. Itu sudah tertulis di Serat Centhini sekitar 300–400 tahun yang lalu,” ujar William Wongso dalam dokumenter tersebut.
Jejak Sejarah Lebih Tua: Abad ke-12 di Kerajaan Kediri
Sejarawan pangan Fadly menegaskan bahwa bukti tertua cendol bahkan dapat ditelusuri hingga abad ke-12. Jejak ini muncul dalam naskah kuno Kakawin Kresnayana karya Mpu Triguna dari Kerajaan Kediri, Jawa Timur.
“Cendol atau dawet berasal dari Pulau Jawa. Ini bisa dilacak lewat naskah Kakawin Kresnayana yang ditulis pada abad ke-12,” jelasnya.
Selain itu, pada tahun 1866 telah ditemukan resep cendol/dawet dalam buku resep East Indies Cookbook berbahasa Belanda, yang semakin menguatkan bahwa cendol telah menjadi bagian dari kuliner Nusantara jauh sebelum dikenal negara lain.
Asal Kata ‘Cendol’ Menguatkan Jejak Indonesia
Dalam bahasa Jawa dan Sunda, kata ‘jendol’ berarti bengkak atau gumpalan kecil, merujuk pada bentuk bulir hijau khas cendol. Ini memperkuat bahwa terminologi serta bentuk kulinernya pun berkembang dari budaya Jawa, bukan luar negeri.
Klaim Malaysia Dipatahkan Bukti Sejarah
Meski Malaysia sering mengklaim cendol sebagai makanan tradisional mereka, tidak ditemukan bukti tertulis, naskah kuno, maupun arsip sejarah yang mendahului referensi Indonesia. Penelusuran CNA menunjukkan bahwa jejak awal cendol di Malaysia muncul jauh lebih belakangan dibandingkan bukti dari Pulau Jawa.







