Penemuan ini bermula dari aroma menyengat yang menuntun warga pada pemandangan memilukan: sebuah pergelangan tangan yang mencuat dari tanah yang hanya digali sedalam dua jengkal.
“Tangan sebelah kanan ada tulisan tato ‘Diyana’. Dia sempat lama di Kijang (Bintan) dan bekerja di kafe, tapi kafe itu sudah tutup. Terakhir dia memang terlihat mulai memakai hijab,” ungkap seorang rekan yang mengenal dekat sosok almarhumah.
Hingga saat ini, pihak Kepolisian Resor Lingga melalui Tim Inafis telah mengevakuasi jenazah Diana ke RSUD Dabo untuk menjalani proses visum dan identifikasi lebih mendalam.
Pria yang diduga suami korban berinisial J, yang diduga kuat terlibat dalam kejadian ini tengah dilacak keberadaannya. J dikabarkan telah meninggalkan wilayah Lingga.
Diana dikabarkan pergi meninggalkan seorang anak perempuan yang masih balita, sebuah fakta yang menambah berat duka dalam tragedi ini.
Di balik nisan dan tanah sedalam dua jengkal itu, tersimpan kisah seorang perempuan yang sebenarnya hanya ingin diberikan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, sebelum maut menjemputnya dengan cara yang paling tidak manusiawi.
Kini, publik menanti hasil penyelidikan resmi kepolisian untuk mengungkap tabir kebenaran dan memberikan keadilan bagi Diana.












