Solusinya bukan dengan membatasi kreativitas, melainkan mengarahkan narasi. Inovasi teknologi asap atau mekanik yang canggih itu akan jauh lebih bermakna jika diselaraskan dengan kisah-kisah Islami atau simbolisme kebudayaan lokal yang lebih inklusif.
Pawai kendaraan hias adalah milik publik. Dialog antara pelaku seni dan tokoh agama sangat diperlukan agar kreativitas tetap memiliki “ruh” dan tradisi tetap punya daya pikat bagi generasi masa depan.
Untuk agenda tahun depan, kalau mau bikin sesuatu yang tetap “gahar” dan canggih (pakai efek asap, lampu, atau mekanik) tapi tetap masuk ke nafas hari raya, mungkin bisa pakai beberapa konsep misalnya Kapal Lancang Kuning “The Legend” dengan menggunakan mesin asap di bagian bawah kapal seolah-olah kapal sedang membelah ombak atau kabut pagi hingga layar yang bisa mengembang otomatis dan meriam karbit buatan yang mengeluarkan cahaya LED saat takbir berkumandang. Setidaknya pesannya sebagai simbol kejayaan maritim dan penyebaran Islam di tanah Melayu.
Atau Replika “Gajah Abrahah” (Pasukan Bergajah) dengan efek belalai gajah bisa mengeluarkan asap atau menyemprotkan confetti. Kepala gajah yang bisa bergerak kiri-kanan. Ukurannya dibuat raksasa agar tetap memberikan kesan intimidating tapi punya dasar cerita dari Al-Qur’an (Surah Al-Fil). Pesannya: Kekuasaan Tuhan di atas segala kekuatan duniawi.








