UPAYA Bupati Natuna, Cen Sui Lan, untuk menyelamatkan konektivitas udara Natuna bukan sekadar basa-basi politik atau janji kosong. Ketika banyak pihak bersikap sinis dan menyebut langkahnya mendatangkan maskapai baru seperti Super Air Jet sebagai “omon-omon” belaka, Cen justru membuktikan kerja konkret yang progresif.
Situasi ini bukan masalah sepele. Berhentinya operasional NAM Air pada 10 Mei 2025 membuat masyarakat cemas akan terputusnya akses transportasi vital yang menghubungkan Natuna dengan Batam dan Jakarta. Respons cepat Cen dengan melobi langsung Kementerian Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Udara patut diapresiasi.
Penting disadari, membuka rute baru ke daerah kepulauan seperti Natuna bukan pekerjaan mudah. Diperlukan proses panjang, mulai dari kajian pasar, izin rute, kesiapan bandara, hingga kelayakan bisnis maskapai. Di sinilah peran pemerintah daerah terlihat: menjadi jembatan antara kepentingan rakyat dan regulasi pusat.
Tak hanya berhenti pada pengadaan maskapai pengganti, Cen juga menekankan pentingnya harga tiket yang terjangkau. Ini bukti pemahaman mendalam bahwa aksesibilitas bukan hanya soal tersedia atau tidaknya penerbangan, tapi juga soal daya beli masyarakat.













