Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak Amerika Serikat yang masih beroperasi di Venezuela.
Berdasarkan data perusahaan konsultan energi Kpler, Chevron mengekspor sekitar 140.000 barel minyak per hari dari Venezuela pada kuartal IV tahun 2025. Trump mengisyaratkan bahwa ke depan, keterlibatan perusahaan migas AS akan diperluas secara signifikan.
Sebelumnya, Amerika Serikat menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, di kediaman mereka tak lama setelah serangan militer dilancarkan ke Kota Caracas pada Sabtu (3/1/2025) dini hari waktu setempat.
Keduanya kini dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan terkait peredaran narkoba dan penjualan senjata.
Trump juga menyatakan Amerika Serikat akan mengambil alih pemerintahan sementara Venezuela. Namun, ia tidak merinci secara jelas berapa lama AS akan memegang kendali di negara tersebut.
“Kami akan memimpin negara ini sampai saatnya transisi yang aman, tepat, dan bijaksana dapat dilakukan,” kata Trump, dikutip dari CNN.
“Kami tidak ingin berurusan dengan pihak yang berkuasa sebelumnya. Situasinya telah berlangsung bertahun-tahun, karena itu kami akan memimpin negara ini,” imbuhnya.
Pernyataan Trump ini diperkirakan akan memicu reaksi keras dari komunitas internasional, khususnya negara-negara anggota OPEC dan Amerika Latin, mengingat Venezuela merupakan pemilik cadangan minyak terbesar dunia dan selama ini menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi politik Amerika Serikat di kawasan tersebut.







