Tiyo menegaskan bahwa kredibilitas aliansi tersebut patut dipertanyakan.
“Apa yang bisa dipercaya dari orang-orang yang sejak dari tubuhnya saja sudah berbohong? Saya enggak pernah menampilkan apa pun yang berkaitan dengan kendaraan atau apa. Sehingga ini tudingan yang saya kira kalau dalam bahasa hukum ya, yang menuding ya yang harus membuktikan,” tegasnya.
Mengenai tuduhan kedekatan dengan tokoh politik dan purnawirawan, Tiyo menganggap hal tersebut sebagai spekulasi yang dicari-cari.
“Terkait kedekatan dengan pihak-pihak tertentu, saya kira orang bisa melakukan cocoklogi macam-macam lah. Saya tetap independen sebagai individu yang merdeka, yang ingin supaya kekuasaan hari ini berjalan dengan benar,” jelasnya.
Tiyo juga menceritakan bahwa ini bukan pertama kalinya ia dihantam isu miring. Ia mengaku pernah dituduh LGBT hingga dituding sebagai “Anak Abah” (pendukung Anies Baswedan) hanya karena pernah berada dalam satu forum alumni Ketua BEM.
Menurutnya, rentetan teror narasi ini sengaja diembuskan agar dirinya sibuk melakukan klarifikasi dan gentar dalam menyuarakan kritik. Namun, eks Ketua BEM UGM ini memilih untuk mengabaikan kebisingan tersebut dan fokus pada substansi gerakan.
“Biarlah waktu yang menentukan apakah tudingan itu benar atau keliru. Biarlah narasi yang saya ucapkan yang jadi ukuran,” pungkas Tiyo.








